iNAAF NEWS (INN) | Hari Raya bukan sekadar
soal baju baru atau makanan enak, melainkan soal cermin kekuatan batin.
Kekuatan untuk berbagi, kekuatan untuk saling memaafkan (Halal bil Halal), dan
kekuatan untuk tetap bangga pada identitas sebagai bangsa yang beriman sekaligus
merdeka.
DALAM sejarah
panjang kebudayaan Indonesia, Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar penanda
berakhirnya bulan suci Ramadhan, melainkan sebuah fenomena sosiologis yang
sangat dalam maknanya.
Dalam esainya yang
bertajuk “Puasa dan Hari Raja” yang dimuat dalam Majalah Hikmah No. 16-17 edisi
Syawal 1375 H (1956 M), Buya Hamka membedah bagaimana hari besar ini telah
bertransformasi menjadi “Hari Raja Nasional (Hari Raya Nasional)”.
Bagi Hamka, Lebaran
adalah puncak di mana kekuatan batin sebuah bangsa diperlihatkan melalui
kegembiraan yang meluap, solidaritas sosial, dan pengukuhan identitas keislaman
dalam balutan keindonesiaan.
Hamka mencatat dengan
jeli bagaimana Idul Fitri telah masuk ke dalam “inti kebudayaan seluruh
bangsa-bangsa Indonesia.” Dalam perspektif beliau, Hari Raya adalah pusat
gravitasi dari segala hajat hidup masyarakat. Segala rencana besar, mulai dari
janji-janji perkawinan, mendirikan rumah, hingga mengkhitankan anak, hampir
selalu dijadwalkan tepat setelah “hari raja” tiba.
Beliau memberikan
gambaran historis yang menarik tentang pergeseran cara merayakan kemenangan
ini. Pada zaman feodal dahulu, Idul Fitri adalah momen di mana kekuasaan
raja-raja dan bupati diperlihatkan melalui upacara sembah bakti. Raja-raja
Melayu akan diiringi dengan penuh kebesaran di bawah payung kuning menuju
masjid. Namun, di zaman merdeka yang dihadapi Hamka saat itu, wajah Hari Raya
berubah menjadi lebih egaliter dan nasionalis.
Di Ibu Kota, Lebaran
berubah menjadi panggung kebangsaan di mana Presiden, Wakil Presiden, dan para
menteri berkumpul bersama rakyat di tanah lapang. Kehadiran para Duta Besar
dari berbagai negeri Islam dengan pakaian kebesaran mereka −seperti jubah dan serban
simpanan− memberikan kesan bahwa Lebaran adalah momentum diplomasi sekaligus
pengakuan internasional atas identitas Indonesia yang berakar kuat pada
nilai-nilai Islam. Inilah yang disebut Hamka sebagai “Hari Raja Kekajaan
Nasional (Hari Raya Kekayaan Nasional)
Solidaritas Sosial dan
Keadilan di Kampung-Kampung
Bagi Hamka, kekuatan
batin bangsa saat Hari Raya juga tercermin dari bagaimana masyarakat
memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang kurang beruntung. Beliau
melukiskan suasana di kampung-kampung, mulai dari Minangkabau, Tapanuli, hingga
Sumatera Selatan, di mana persiapan Hari Raya dilakukan dengan semangat gotong
royong yang luar biasa.
Salah satu tradisi yang
paling menonjol adalah “membantai” sapi atau kerbau menurut adat. Hamka
menceritakan bagaimana puluhan orang bersatu membeli ternak, menyembelihnya,
dan membaginya menjadi “umpuk-umpuk” atau tumpukan daging yang adil. Di sini,
keadilan sosial bukan sekadar teori politik, melainkan praktik nyata. Hamka
menekankan bahwa dalam momen ini, setiap orang mendapatkan bagian yang sama,
termasuk hati dan limpa, sehingga kegembiraan makan daging di hari lebaran
tidak hanya milik si kaya.
Zakat fitrah dan zakat
mal dari para pengusaha menjadi instrumen pendukung yang memastikan bahwa faqir
miskin tidak sekadar menjadi penonton di hari kemenangan. Bagi Hamka, kesibukan
menjahit pakaian baru dan mengatur berbagai macam juadah di atas meja bukan
sekadar pamer kemewahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap tamu dan
perayaan atas kebersamaan yang tulus.
Di sisi lain, sebagai
ulama yang kritis, Hamka juga tidak menutup mata terhadap pergeseran nilai di
perkotaan yang dianggapnya sebagai tantangan moral. Beliau memotret gaya hidup
modern tahun 1950-an di mana malam lebaran dihiasi dengan kembang api, musik
mambo, bolero, hingga dansa. Hamka menyentil fenomena peredaran minuman keras
yang digunakan untuk “memanaskan badan” sebagai bentuk penghormatan hari raya
yang menyimpang.
Di sini muncul
perdebatan menarik yang dicatat Hamka antara mereka yang taat dan mereka yang
“fasik.” Ada kelompok yang mengeluh karena merasa kesucian Hari Raya dikotori
oleh orang-orang yang bahkan tidak ikut berpuasa namun ikut berpesta. Namun,
Hamka justru menampilkan sisi kearifan yang luar biasa melalui jawaban seorang
kawannya yang berlapang dada.
Beliau menyimpulkan
bahwa meluapnya kegembiraan seluruh bangsa −terlepas dari cara mereka yang
mungkin belum sempurna secara agama− adalah “alamat kemenangan Islam atas
kebudayaan bangsa kita.”
Hamka melihat bahwa
secara budaya, Islam telah menang telak di Indonesia karena mampu membuat
seluruh rakyat merasa memiliki Hari Raya ini. Kegembiraan mereka, dengan
caranya sendiri, tidak akan mengurangi kemurnian ruhani bagi mereka yang
benar-benar berpuasa.
Hari Raya sebagai
Penjaga Ingatan Sejarah
Terakhir, Hamka
menegaskan bahwa Hari Raya adalah penjaga memori kolektif bangsa. Beliau sangat
menekankan kaitan batin antara Idul Fitri dan Proklamasi Kemerdekaan. Baginya,
kegembiraan Lebaran adalah energi yang sama yang digunakan rakyat untuk mempertahankan
Republik dari serangan penjajah.
Melalui esai ini, Hamka
mengajak kita melihat bahwa Hari Raya bukan sekadar soal baju baru atau makanan
enak, melainkan soal cermin kekuatan batin. Kekuatan untuk berbagi, kekuatan
untuk saling memaafkan (Halal bil Halal), dan kekuatan untuk tetap bangga pada
identitas sebagai bangsa yang beriman sekaligus merdeka.
Bagi Hamka, Idul Fitri adalah ruang di mana perbedaan strata sosial, mulai dari “si Amat” di lorong becek hingga Presiden di tanah lapang, melebur dalam satu perasaan syukur yang sama. Sebuah kemenangan kebudayaan yang memastikan bahwa nilai-nilai Islam akan terus menjadi napas bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. (MBS)
Sumber : hidayatullahdotcom

0 komentar:
Posting Komentar